Dicegat di Simpang Sudirman-Casablanca

Posted: Maret 4, 2009 in Info, Kriminal
Tag:

Komisi Pembarantas Korupsi (KpK) kembalimenunjukkan taringnya dalam upaya memerangi korupsi di tanah air. Kali ini, anggota dewan yang terhormat kembali menjadi target perburuan mereka.
Seakan tidak kapok dengan berbagai pemberitaan penangkapan yang menimpa rekan-rekan sejawatnya, Abdul Hadi Djamal, anggota Komisi V Bidang Perhubungan tertangkap tangan oleh anggota penyidik KPK, menerima uang 90.000 dolar AS dan Rp54,5 juta di Jln.Sudirman-Jln. Casablanca Jakarta, senin (2/3) pukul 22.30 WIB.
Ia menerima uang tersebut dari perantara yang merupakan PNS Bagian Tata Usaha Direktorat Jenderal Perhubungan Laut (Ditjen Hubla) Departeman Perhubungan (Dephub), Darmawati.
penerimaan uang oleh Abdul Hadi tersebut diduga terkait dengan percepatan program lanjutan pembangunan fasilitas pelabuhan laut dan bandara di wilayah Indonesia timur yang anggarannya mencapai Rp 100miliar. Uang yang diterima Abdul hHadi tersebut diduga berasal dari rekanan Dephub yakni Hontjo Kurniawan, Komisaris PT Kurnia Jaya Wira Bakti-Surabaya.
Kasus serupa yang menimpa anggota Komisi V DPR RI dan Dephub juga pernah terjadi beberapa waktu lalu, yang menyeret nama BUlyan Royan, terkait dengan dugaan suap pada kasus pengadaan kapal patroli di DItjen Hubla Dephub.
Saat tertangkap tangan oleh KPK 30 Juni 2008 lalu, Bulyan yang kini dituntut delapan tahun penjara oleh jaksa penuntut umum KK, sedang memegang uang yang diterima dari salah satu rekanan Dephub dalam pengdaan kapal patroli, Dedi Suwarsono, senilai 66.000dolar AS dan 5.500 euro.
“KPK ternyata masih menunjukkan langkah progresif dalam pemberantasan korupsi. Yang kita kira mereka ‘tertidur’ beberapa waktu terakhir, nyatanya tidak. KPK telah menunjukkan hal positif di awal tahun 2009 ini, “ujar Peneliti Hukum Corruption Watch (ICW) Febri Diansyah di Jakarta, Selasa (3/3).
Pada awal tahun ini, KPK memang cenderung lebih banyak melakukan langkah pencegahan dibandingkan dengan penindakan. Pemberitaan di koran nasional dan daerah mengenai sepak terjang KPK tak segencar pertengahan hingga akhir tahun 2008, di mana KPK begitu masif mengincar para koruptor.
“Tapi, Penangkapan anggota DPR RI Senin kemarin kan kasus baru, sedangkan KPK itu masih banyak Kasus-kasus lama yang juga belum selesai. Saya tetap mengapresiasi langkah KPK ini, tapi tetap mengimbau agar KPK juga tidak melupakan kasus-kasus lama yang belum selesai,”kata Febri.
Kepala Biro Humas KPK Johan Budi mengatakan, penangkapan terhadap Abdul Hadi yang sedang bersama dengan Darmawati dimulai dari adanya laporan masyarakat yang mengatakan bahwa akan ada pertemuan antara Dephub dengan pihak swasta, yang akan memberi uang kepada anggota DPR RI di salah satu kawasan di Jakarta Pusat.
“Informasi pertemuan itu sekitar pukul 16.00 WIB. Begitu mendaoat info tersebut, KPK pun menurunkan tim penyidik untuk melakukan pengintaian, “ujarnya.
Dalam upaya pengintaian ungkap Johan, memang benar ada pertemuan antara Darmawati dengan salah satu pihak rekanan yakni Hontjo Kurniawan. Tidak beberapa lama Abdul Hadi pun tiba di lokasi.
Akhirnya, Abdul Hadi dan Darmawati pergi dengan menggunakan mobil yang sama yakni Honda Jazz milik Darmawati. Sementara mobil Nissan Terano milik Abdul Hadi mengikuti Honda Jazz.
“Tepat di persimpangan Jln. Sudirman-Casablanca, sekitar pukul 22.15 WIB, tim KPK mencegat mereka. Di dalam mobil Jazz, tim kami menemukan tas cokelat berisi uang 80.000 dolar As dolar dan Rp 54,5 juta. Setelah digeledah lebih lanjut, ditemikan juga uang 10.000 dolar AS,”tutur Johan Budi menjelaskan.
Lalu, mobil milik Abdul Hadi di yang dikendarai sopirnya juga ikut dicegat KPK. “Tapi, kita tidak menemukan apa pun dalam mobil tersebut,”katanya.
Dari penangkapan terhadap Abdul Hadi dan Darmawati tersebut, ujar Johan, dlanjutkan dengan penangkapan terhadap Hontjo. “Hontjo ikut ditangkap di salah satu apartemen di Jakarta Barat,”tuturnya.
Miris memang ketika mereka yang menamakan diri sebagai wakil rakyat terus-terusan masuk menjadi berita besar yang menghiasi koran-koran di tanah air. Sayangnya pemberitaan terkait mereka justru karena mereka melakukan tindak pidana korupsi.
Padahal, baru saja pada 25 Februari 2009 lalu pimpinan partai politik menandatangani Deklarasi Antikorupsi di Gedung KPK. Tak lama kemudian, KPK justru menangkap salah seorang kader partai yang duduk di DPR karena diduga menerima suap. Abdul Hadi menambah jumlah daftar anggota DPR yang kini menjadi pesakitan tindak pidana korupsi.
Kok sepertinya anggota DPR tidak Kapok-kapok ya?padahal, sudah jelas bahwa gerakan masif yang dilakukan KPK terhadap anggota dewan bukan sekadar gertak sambal. (Feby Syarifah/”PR”)

Komentar
  1. redaksi mengatakan:

    PISAU TAJAM KORUPSI

    Kebusukan nafsumu, membunuh jiwaku. Lalu kau berjalan meyeringai membiarkanku sendiri. Dengan suara terbahak kau berjalan pergi, membiarkanku terluka. Tubuhku menggelepar tak berdaya, kau menikamku dengan pisau tajam korupsi.

    Hatiku berdarah dalam tubuh, aku merintih kesakitan. Darahku menetes. Setiap darah yang menetes membakar perih ini setiap saat. Koruptor membinasakanku.

    waktu itu……….

    Semalam sebelumnya, diantara kedua tanganmu kekuatanmu berasal. Gema senandung kesedihan dari seorang yang sengsara, hati anak yatim yang hatinya hancur berkeping-keping, desah ratapan seorang yang tertindas, kau bantu. Kau ku anggap sebagai juru selamatku.

    Tapi kini…………!!!!

    Dalam malam tenang, hati membukakan pintu rahasia kamarku, angin membangunkanku tidur lelapku.

    KPK menangkapmu…

    Dengan halus, Abdul Hadi Djamal menikamku dengan pisau tajam korupsi.

    sumber:http://asyiknyaduniakita.blogspot.com/

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s